تمرق مارقة على حين فرقة من أمتي يحقر أحدكم صلاته مع
صلاتهم، وقراءته مع قراءتهم، يمرقون من الإسلام مروق السهم من الرمية،
أينما لقيتموهم فاقتلوهم فإن في قتلهم أجراً لمن قتلهم
“Mereka keluar saat terjadi perpecahan di antara umatku. Salah
seorang diantara kalian (sahabat Nabi) akan menganggap remeh shalatnya
dibanding shalat mereka. Kalian menganggap remeh baca’an Al Qur’an
kalian dibanding bacaan mereka. Mereka itu keluar dari agama ini
sebagaimana keluarnya panah keluar dari busurnya. Dimanapun kalian
menemui mereka, bunuhlah mereka. Karena membunuh mereka itu berpahalanya
bagi yang membunuhnya” (HR. Bukhari 3611)Diantara aqidah kaum khawarij adalah menganggap kafirnya kaum muslimin pelaku dosa besar, dan meyakini bahwa mereka kekal di neraka. Demikian ciri khas kaum khawarij, yaitu terlalu mudah memvonis kafir kepada seorang Muslim. Bahkan di zaman Ali bin Abi Thalib dahulu, mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah dan juga mengkafirkan kaum muslimin yang tidak setuju dengan pendapat mereka.
Bahkan sebelumnya, mereka telah membangun pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin ‘Affan radhiallahu’anhu yang menyebabkan terbunuhnya Utsman. Ini pun merupakan salah satu sifat mereka, yaitu gemar mencari-cari kesalahan penguasa. Mereka juga berpendapat wajibnya menggulingkan penguasa yang mereka anggap salah dan zhalim. Sebagaimana ketika mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, dengan alasan bahwa Ali telah berhukum dengan selain hukum Allah yaitu berhukum kepada manusia. Mereka berdalil dengan ayat,
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 44).Namun Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhuma, seorang ulama yang faqih di kalangan para sahabat Nabi, merasa perlu untuk berbicara dengan mereka dalam rangka mendebat mereka dan mematahkan argumen mereka supaya mereka kembali ke jalan yang benar. Berikut ini dialog antara Abdullah bin ‘Abbas dengan kaum Khawarij.
Diriwayatkan oleh Imam An Nasa-i dalam kitab Al Khasha-ish Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (190), dengan sanad yang hasan,
أخبرنا عمرو بن علي قال حدثنا عبد الرحمن بن مهدي قال حدثنا عكرمة بن عمار قال حدثني أبو زميل قال حدثني عبد الله بن عباس قال
‘Amr bin Ali mengabarkan kepadaku, ia berkata, ‘Abdurrahman bin Mahdi
menuturkan kepadaku, Ikrimah bin ‘Ammar berkata, Abu Zamil menuturkan
kepadaku, ia berkata, Abdullah bin ‘Abbas berkata:
لما خرجت الحرورية اعتزلوا في دار و كانوا ستة آلاف فقلت
لعلي يا أمير المؤمنين أبرد بالصلاة لعلي أكلم هؤلاء القوم قال إني أخافهم
عليك قلت كلا
Ketika kaum Haruriyyah (Khawarij) memberontak, mereka berkumpul
menyendiri di suatu daerah. Ketika itu mereka ada sekitar 6000 orang.
Maka aku pun berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib: “wahai Amirul Mu’minin,
tundalah shalat zhuhur hingga matahari tidak terlalu panas, mungkin aku
bisa berbicara dengan mereka kaum Khawarij”. Ali berkata: “aku
mengkhawatirkan keselamatanmu”. aku berkata: “tidak perlu khawatir”
فلبست وترجلت و دخلت عليهم في دار نصف النهار وهم يأكلون
فقالوا مرحبا بك يا ابن عباس فما جاء بك قلت لهم أتيتكم من عند أصحاب النبي
المهاجرين والأنصار ومن عند ابن عم النبي وصهره وعليهم نزل القرآن فهم
أعلم بتأويله منكم و ليس فيكم منهم أحد لأبلغكم ما يقولون وأبلغهم ما
تقولون فانتحى لي نفر منهم
Aku lalu memakai pakaian yang bagus dan berdandan. Aku sampai di
daerah mereka pada waktu tengah hari, ketika itu kebanyakan mereka
sedang makan. Mereka berkata: “marhaban bik (selamat datang)
wahai Ibnu ‘Abbas, apa yang membuatmu datang ke sini?”. Aku berkata:
“Aku datang mewakili para sahabat Nabi dari kaum Muhajirin dan Anshar
dan mewakili anak dari paman Nabi (Ali bin Abi Thalib). Merekalah yang
membersamai Nabi, Al Qur’an di turunkan di tengah-tengah mereka, dan
mereka lah yang paling memahami makna Al Qur’an. Dan tidak ada salah
seorang pun dari kalian yang termasuk sahabat Nabi. Akan aku sampaikan
perkataan mereka yang lebih benar dari perkataan kalian”. Lalu sebagian
dari mereka mencoba menahanku untuk bicara.
قلت هاتوا ما نقمتم على أصحاب رسول الله وابن عمه قالوا
ثلاث قلت ما هن قال أما إحداهن فانه حكم الرجال في أمر الله وقال الله إن
الحكم إلا لله الأنعام 57 يوسف 40 67 ما شأن الرجال والحكم قلت هذه
واحدة قالوا وأما الثانية فانه قاتل ولم يسب ولم يغنم إن كانوا كفارا لقد
حل سبيهم و لئن كانوا مؤمنين ما حل سبيهم و لا قتالهم قلت هذه ثنتان فما
الثالثة وذكر كلمة معناها قالوا محى نفسه من أمير المؤمنين فإن لم يكن أمير
المؤمنين فهو أمير الكافرين قلت هل عندكم شيء غير هذا قالوا حسبنا هذا
Aku berkata lagi: “sampaikan kepada saya apa alasan kalian memerangi
para sahabat Rasulullah dan anak dari pamannya (Ali bin Abi Thalib)?”.
Mereka menjawab: “ada 3 hal”. Aku berkata: “apa saja?”. Mereka menjawab:
“Pertama: ia telah menjadi hakim dalam urusan Allah, padahal Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah”
(QS. Al An’am: 57, Yusuf: 40). Betapa beraninya seseorang menetapkan
hukum!”. Aku berkata: “ini yang pertama, lalu?”. Mereka menjawab: “Kedua:
ia memimpin perang (melawan pihak ‘Aisyah) namun tidak menawan tawanan
dan tidak mengambil ghanimah. Padahal jika memang ia memerangi orang
kafir maka halal tawanannya. Namun jika yang diperangi adalah orang
mukmin maka tidak halal tawanannya dan tidak boleh diperangi”. Aku
berkata: “ini yang kedua, lalu apa yang ketiga?”. (Ketiga)
Mereka menyampaikan perkataan yang intinya kaum Khawarij berpendapat
bahwa Ali bin Abi Thalib telah menghapus gelar Amirul Mu’minin dari
dirinya, dengan demikian ia adalah Amirul Kafirin. Aku lalu berkata:
“apakah masih ada lagi alasan kalian?”. Mereka menjawab: “itu sudah
cukup”.
قلت لهم أرأيتكم إن قرأت عليكم من كتاب الله جل ثناءه وسنة
نبيه ما يرد قولكم أترجعون قالوا نعم قلت أما قولكم حكم الرجال في أمر
الله فإني أقرأ عليكم في كتاب الله أن قد صير الله حكمه إلى الرجال في ثمن
ربع درهم فأمر الله تبارك وتعالى أن يحكموا فيه أرأيت قول الله تبارك
وتعالى يا أيها الذين آمنوا لا تقتلوا الصيد وأنتم حرم ومن قتله منكم
متعمدا فجزاء مثل ما قتل من النعم يحكم به ذوا عدل منكم المائدة 95
Aku berkata: “bagaimana menurut kalian jika aku membacakan kitabullah
dan sunnah Nabi-Nya yang akan membantah pendapat kalian? apakah kalian
akan rujuk (taubat)?”. Mereka berkata: “ya”. Aku katakan: “adapun
perkataan kalian bahwa Ali bin Abi Thalib telah menetapkan hukum dalam
perkara Allah, aku kan membacakan Kitabullah kepada kalian bahwa Allah
telah menyerahkan hukum kepada manusia dalam seperdelapan seperempat
dirham. Allah tabaraka wa ta’ala memerintahkan untuk berhukum kepada
manusia dalam hal ini. tidakkah kalian membaca firman Allah tabaraka wa
ta’ala (yang artinya): ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu membunuh hewan buruan dalam keadaan berihram. Barang siapa yang
membunuhnya diantara kamu secara sengaja, maka dendanya adalah
mengantinya dengan hewan yang seimbang dengannya, menurut putusan hukum dua orang yang adil diantara kamu‘ (QS. Al Maidah: 95)”
وكان من حكم الله انه صيره إلى رجال يحكمون فيه ولو شاء
يحكم فيه فجاز من حكم الرجال أنشدكم بالله أحكم الرجال في صلاح ذات البين
وحقن دمائهم أفضل أو في أرنب قالوا بلى هذا أفضل وفي المرأة وزوجها وإن
خفتم شقاق بينهما فابعثوا حكما من أهله وحكما من أهلها النساء 35 فنشدتكم
بالله حكم الرجال في صلاح ذات بينهم وحقن دمائهم افضل من حكمهم في بضع
امرأة خرجت من هذه قالوا نعم
Ini diantara hukum Allah yang Allah serahkan putusannya kepada
manusia. Andaikan Allah mau, tentu Allah bisa memutuskan saja hukumnya.
Namun Allah membolehkan berhukum kepada manusia. Demi Allah aku bertanya
kepada kalian, apakah putusan hukum seseorang dalam mendamaikan
suami-istri yang bertikai atau dalam menjaga darah kaum muslimin atau
dalam masalah daging kelinci itu afdhal? Mereka menjawab: “iya, tentu
itu afdhal”. Dalam masalah pertikaian suami istri, “Dan bila kamu
mengkhawatirkan perceraian antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam
(penengah yang memberi putusan) dari keluarga laki-laki dan seorang
penengah dari keluarga wanita” (QS. An Nisaa: 35). Demi Allah telah
bacakan kepada kalian diperintahkannya berhukum kepada manusia dalam
mendamaikan suami-istri yang bertikai dan dalam menjaga darah mereka,
dan itu lebih afdhal dari pada hukum yang diputuskan beberapa wanita.
Apakah alasanmu sudah terjawab dengan ini? Mereka menjawab: “Ya”.
قلت وأما قولكم قاتل ولم يسب ولم يغنم أفتسبون أمكم عائشة
تستحلون منها ما تستحلون من غيرها وهي أمكم فإن قلتم إنا نستحل منها ما
نستحل من غيرها فقد كفرتم وان قلتم ليست بأمنا فقد كفرتم النبي أولى
بالمؤمنين من أنفسهم وأزواجه أمهاتهم الأحزاب 6 فأنتم بين ضلالتين فأتوا
منها بمخرج افخرجت من هذه قالوا نعم
Aku berkata: “adapun perkataan kalian bahwa Ali berperang (melawan pihak ‘Aisyah) namun tidak menawan dan tidak mengambil ghanimah,
saya bertanya, apakah kalian akan menawan ibu kalian ‘Aisyah? Apakah ia
halal bagi kalian sebagaimana tawanan lain halal bagi kalian? Jika
kalian katakan bahwa ia halal bagi kalian sebagaimana halalnya tawanan
yang lain, maka kalian telah kufur. Atau jika kalian katakan ia bukan
ibumu, kalian kafir. ‘Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi
orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah
ibu-ibu mereka (kaum mukminin)‘ (QS. Al Ahdzab: 6). Maka kalian
berada di antara dua kesesatan, coba kalian pilih salah satu? Apakah ini
sudah menjawab alasan kalian?”. Mereka menjawab: “ya”.
وأما محي نفسه من أمير المؤمنين فأنا آتيكم بما ترضون إن
نبي الله يوم الحديبية صالح المشركين فقال لعلي اكتب يا علي هذا ما صالح
عليه محمد رسول الله قالوا لو نعلم انك رسول الله ما قاتلناك فقال رسول
الله امح يا علي اللهم انك تعلم إني رسول الله امح يا علي واكتب هذا ما
صالح عليه محمد بن عبد الله والله لرسول الله ص خير من علي و قد محى نفسه و
لم يكن محوه نفسه ذلك محاه من النبوة أخرجت من هذه قالوا نعم
Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwa Ali menghapus
gelar Amirul Mu’minin darinya, maka aku akan sampaikan hal yang kalian
ridhai. Bukankah Nabi shalallahu‘alaihi wasallam pada Hudaibiyah membuat perjanjian dengan kaum Musyrikin. Rasulullah berkata kepada Ali, “tulislah wahai Ali, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad Rasulullah”. Namun
kaum musyrikin berkata, “tidak! andai kami percaya bahwa engkau
Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangimu”. Maka Rasulullah shalallahu‘alaihi wasallam
bersabda, “Kalau begitu hilangkan tulisan “Rasulullah” wahai Ali. Ya
Allah, sungguh Engkau Maha Mengetahui bahwa aku adalah Rasul-Mu. Hapus
saja, wahai Ali. Dan tulislah, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad bin Abdillah”. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
tentu lebih utama dari pada Ali. Namun beliau sendiri pernah menghapus
gelar “Rasulullah”. Namun penghapus gelar tersebut ketika itu tidak
menghapus kenabian beliau. Apakah alasan kalian sudah terjawab dengan
ini?”. Mereka berkata: “ya”.
فرجع منهم ألفان وخرج سائرهم فقتلوا على ضلالتهم قتلهم المهاجرون والأنصار
Ibnu Abbas berkata, “maka bertaubatlah sekitar dua ribu orang di
antara mereka, dan sisanya tetap memberontak. Mereka akhirnya terbunuh
dalam kesesatan mereka. Kaum Muhajirin dan Anshar lah yang membunuh
mereka”. [selesai].Semoga banyak pelajaran yang diambil dari kisah ini, semoga Allah menetapkan kita di jalan-Nya yang lurus.
—
Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id
