Makna beriman kepada Allah
Beriman kepada Allah adalah kita mengimani semua penjelasan Allah dan rasul-Nya tentang Allah
‘Azza wa Jalla, termasuk ke dalam beriman kepada Allah adalah beriman kepada apa yang disebutkan di bawah ini:
- Beriman kepada wujud Allah
Kita mengetahui bahwa manusia bukanlah yang menciptakan dirinya sendiri,
karena sebelumnya ia tidak ada. Sesuatu yang tidak ada tidak bisa
mengadakan sesuatu. Manusia tidak pula diciptakan oleh ibunya, dan tidak
pula oleh bapaknya, serta tidak pula muncul secara tiba-tiba. Sesuatu
yang terwujud sudah pasti ada yang mewujudkannya. Dari sini kita
mengetahui keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Pencipta kita dan
Pencipta alam semesta. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath Thur: 35)
- Beriman bahwa Allah adalah Rabbul ‘Aalamiin
Maksudnya adalah beriman bahwa Allah adalah Pencipta, Pengatur, dan
Penguasa alam semesta serta Pemberi rezekinya. Beriman bahwa Allah
adalah Rabbul ‘Aalamin, disebut juga beriman kepada rububiyyah Allah.
- Beriman bahwa Allah adalah Al Ilaah (Al Ma’buud bihaqq)
Maksudnya beriman bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan ditujukan
berbagai macam ibadah. Beriman bahwa hanya Allah yang berhak disembah
disebut juga beriman kepada Uluhiyyah Allah. Inilah yang diingkari oleh
orang-orang musyrik, sehingga mereka menyembah dan berdoa kepada selain
Allah, seperti menyembah kepada patung dan berhala.
- Beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-Nya
Maksudnya kita mengimani bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat yang
telah ditetapkan Allah dalam Al Qur’an dan Rasul-Nya dalam As Sunnah,
tanpa tamtsil (menyamakan dengan sifat makhluk), takyif (menanyakan “Bagaimana hakikat sifat Allah?”), ta’thil (meniadakan) dan tanpa ta’wil (mengartikan
lain, seperti mengartikan “Tangan” diartikan dengan “Kekuasaan”).
Bahkan sikap kita adalah sebagaimana dikatakan ulama ”Amirruuhaa kamaa jaa’at” (Biarkanlah sebagaimana datangnya).
Makna beriman kepada malaikat Allah
Beriman kepada malaikat maksudnya kita mengimani segala penjelasan Allah dan Rasul-Nya tentang malaikat.
Malaikat adalah makhluk Allah yang berada di alam ghaib yang senantiasa beribadah kepada Allah
Ta’ala.
Mereka tidak memiliki sedikit pun sifat-sifat ketuhanan dan tidak
berhak disembah. Allah menciptakan mereka dari cahaya dan mengaruniakan
kepada mereka sikap selalu tunduk kepada perintah-Nya serta diberikan
kesanggupan untuk menjalankan perintah-Nya.
Jumlah mereka sangat banyak, tidak ada yang mengetahui jumlahnya
selain Allah sendiri. Dalam hadits Israa’-Mi’raj disebutkan, bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَرُفِعَ لِيَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فَسَأَلْتُ
جِبْرِيلَ فَقَالَ هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ
يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ
آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ
“
Lalu ditampakkan kepadaku Al Baitul Ma’mur (ka’bah penghuni
langit ketujuh), aku pun bertanya kepada Jibril (tentangnya), maka ia
menjawab, “Ini adalah Al Baitul Ma’mur, setiap harinya 70.000 malaikat
shalat di situ. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi sebagai
kewajiban terakhir mereka.” (HR. Bukhari)
Termasuk ke dalam beriman kepada malaikat adalah:
- Mengimani wujud mereka
- Mengimani malaikat yang telah diberitahukan kepada kita namanya
Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, maka kita imani secara ijmal
(garis besar), yakni bahwa Allah memiliki malaikat dalam jumlah banyak.
- Mengimani sifat malaikat yang telah diberitahukan kepada kita sifatnya.
Misalnya malaikat Jibril, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah melihatnya dalam wujud aslinya, di mana ia memiliki 600 sayap
(HR. Bukhari), masing-masing sayap menutupi ufuk (HR. Ahmad). Contoh
lainnya adalah sifat malaikat pemikul ‘arsy (singgasana), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُذِنَ لِيْ أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ
اللهِ تَعَالَى مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ
اِلىَ عَاتِقِهِ مَسِيْرَةَ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ
“Saya diizinkan menceritakan tentang salah satu malaikat Allah
yang memikul ‘arsy, bahwa jarak antara bagian bawah telinganya dengan
pundaknya sejauh perjalanan 700 tahun.” (Silsilah Ash Shahiihah: 151)
- Mengimani tugas malaikat yang telah diberitahukan kepada kita.
Di antara tugas mereka adalah bertasbih malam dan siang, beribadah, berthawaf di Baitul Ma’mur, dsb.
Makna beriman kepada kitab-kitab Allah
Kita juga wajib beriman bahwa Allah
Subhaanahu wa Ta’aala telah menurunkan kitab-kitab dan telah memberikan kepada beberapa rasul
suhuf (lembaran-lembaran
berisi wahyu). Semuanya adalah firman Allah yang diwahyukan kepada
rasul-rasul-Nya agar mereka menyampaikan kepada manusia syari’at-Nya.
Firman Allah bukanlah makhluk karena firman termasuk sifat-sifat-Nya
sedangkan sifat-sifat-Nya bukanlah makhluk.
Termasuk ke dalam beriman kepada kitab-kitab Allah adalah:
- Beriman bahwa kitab-kitab itu turun dari sisi Allah.
- Beriman kepada kitab-kitab Allah tersebut baik secara tafshil (rinci) maupun ijmal (garis besar).
Secara tafshil maksudnya kita mengimani penjelasan Al Qur’an dan As
Sunnah yang menyebutkan tentang kitab-kitab Allah tersebut secara rinci
seperti namanya adalah kitab ini dan diberikan kepada nabi yang bernama
ini dsb. Sedangkan secara ijmal maksudnya kita mengimani bahwa Allah
Subhaanahu wa Ta’aala telah menurunkan kitab-kitab kepada
rasul-rasul-Nya meskipun tidak disebutkan namanya
- Membenarkan berita yang ada dalam kitab tersebut yang masih murni (belum dirubah)
Seperti berita Al Qur’an dan berita kitab-kitab yang belum dirubah. Kita
katakan “yang masih murni” karena kitab-kitab selain Al Qur’an tidak
dijaga kemurniannya seperti halnya Al Qur’an yang dijaga kemurniannya
oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Sedangkan kitab-kitab selain
Al Qur’an seperti Taurat dan Injil sudah dicampuri oleh tangan-tangan
manusia dengan diberikan tambahan, dirubah, dikurangi, atau dihilangkan
sehingga tidak murni lagi seperti keadaan ketika diturunkan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (Terj. An Nisaa’: 46)
- Mengamalkan hukum yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut selama
belum dihapus disertai dengan sikap ridha dan menerima. Namun setelah
diturunkan Al Qur’an, maka kitab-kitab sebelumnya sudah mansukh
(dihapus) tidak bisa diamalkan lagi; yang diamalkan hanya Al Qur’an saja
atau hukum yang dibenarkan oleh Al Qur’an saja. Sulaiman bin Habib
pernah berkata, “Kita hanya diperintahkan beriman kepada Taurat dan
Injil dan tidak diperintah mengamalkan hukum yang ada pada keduanya.”
Makna beriman kepada rasul-rasul Allah
Rasul adalah orang yang mendapat wahyu dengan membawa syari’at yang
baru, sedangkan nabi adalah orang yang diutus dengan membawa syari’at
rasul yang datang sebelumnya.
Para rasul adalah manusia, mereka tidak memiliki sedikit pun sifat
rububiyyah (mencipta, mengatur dan menguasai alam semesta), mereka tidak
mengetahui yang ghaib, dan tidak mampu mendatangkan manfaat atau pun
menolak madharrat (bahaya). Allah Ta’ala menyuruh Nabi-Nya Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam –di mana Beliau adalah pemimpin para rasul dan rasul yang paling tinggi kedudukannya- untuk mengatakan:
قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ
مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ
الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ
لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik manfaat bagi diriku dan
tidak pula menolak madharrat kecuali yang diikehendaki Allah. Sekiranya
aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku banyak memperoleh manfaat dan
sedikit pun aku tidak ditimpa madharrat. Aku tidak lain hanyalah pemberi
peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al A’raaf : 188)
Diantara sebab yang menghalangi orang-orang kafir beriman kepada Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah karena Beliau manusia, mereka mengatakan “Mengapa Allah mengutus
rasul dari kalangan manusia?” Kalau seandainya mereka mau berpikir
tentu mereka akan mengetahui bahwa di antara hikmah Allah mengutus rasul
dari kalangan manusia adalah agar dapat diteladani, ditiru, dan diikuti
perbuatannya. Karena kalau dari kalangan malaikat bagaimana dapat
diikuti, bukankah malaikat itu tidak makan dan tidak minum, juga tidak
menikah?
Termasuk ke dalam beriman kepada rasul-rasul Allah adalah:
- Beriman bahwa risalah mereka benar-benar dari sisi Allah.
Oleh karena itu barang siapa yang ingkar kepada salah seorang rasul, maka sama saja telah ingkar kepada semua rasul.
- Mengimani rasul yang telah diberitahukan kepada kita namanya
Sedangkan yang tidak diberitahukan namanya, maka kita mengimaninya secara ijmal (garis besar).
- Membenarkan berita mereka yang shahih.
- Mengamalkan syari’at rasul yang diutus kepada kita.
Dan rasul yang diutus kepada kita sekarang adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau adalah penutup para rasul, tidak ada lagi nabi setelahnya.
Makna beriman kepada hari akhir
Beriman kepada hari akhir maksudnya adalah mengimani semua penjelasan
Allah dan Rasul-Nya yang menyebutkan tentang keadaan setelah mati,
seperti: Fitnah kubur[1], azab kubur dan nikmat kubur,
Ba’ts (kebangkitan manusia), Hasyr (pengumpulan manusia), bertebarannya catatan amal, Hisab (pemeriksaan amal), Mizan (timbangan),
Haudh (telaga),
Shirat (jembatan), syafa’at, surga, neraka dsb.
Termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman kepada tanda-tanda hari kiamat, seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa ‘
alaihissalam, keluarnya Ya’juj-Ma’juj, dan terbitnya matahari dari barat. Dalilnya adalah sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ
آيَاتٍ فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ
الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى
اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ
خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ
الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ
إِلَى مَحْشَرِهِمْ *
“
Sesungguhnya kiamat tidak akan tegak sampai kalian melihat
sebelumnya sepuluh tanda.” Beliau menyebutkan sebagai berikut, “Adanya
Dukhan (asap), Dajjal, Daabbah (binatang melata), terbitnya matahari
dari barat, turunnya Isa putera Maryam, Ya’juj dan Ma’juj, adanya tiga
khasf (penenggelaman bumi) di timur, di barat, dan di jazirah Arab, dan
yang terakhir dari semua itu adalah keluarnya api dari Yaman menggiring
manusia ke tempat berkumpulnya[2].” (HR. Muslim)
Apabila sudah tiba tanda besar ini, maka sudah sangat dekat sekali hari kiamat.
Sebelum tibanya tanda-tanda tersebut, akan didahului tanda-tanda
kecilnya di antaranya adalah diangkatnya ilmu (yaitu dengan banyak
diwafatkannya para ulama), perzinaan merajalela, wanita lebih banyak
daripada laki-laki, amanah akan disia-siakan dengan diserahkan urusan
kepada yang bukan ahlinya, banyaknya pembunuhan, dan banyaknya gempa
bumi (berdasarkan hadits-hadits yang shahih).
Di antara hikmah mengapa Allah sering menyebutkan hari akhir[3] dalam
Al Qur’an adalah karena beriman kepada hari akhir memiliki pengaruh
yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang sehingga ia akan mengisi
hari-harinya dengan amal saleh, ia pun akan lebih semangat untuk
mengerjakan ketaatan itu sambil berharap akan diberikan pahala di hari
itu. Demikian pula akan membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya
dengan kemaksiatan apalagi sampai merasa tenteram dengannya. Beriman
kepada hari akhir juga membantu seseorang untuk tidak berlebihan
terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Di
antara hikmahnya juga adalah menghibur seorang mukmin yang kurang
mendapatkan kesenangan dunia karena di hadapannya ada kesenangan yang
lebih baik dan lebih kekal.
Makna beriman kepada qadar Allah
Sebelum membicarakan makna beriman kepada qadar Allah, alangkah baiknya kita simak perkatan Abdullah bin Umar
radhiyallahu ‘anhuma terhadap orang-orang yang ingkar kepada qadar:
فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي
“
Jika engkau menemui mereka (orang-orang yang ingkar kepada
qadar), maka beritahukan mereka, bahwa aku berlepas diri dari mereka,
dan mereka juga berlepas diri dariku.”
لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
“
Kalau sekiranya salah seorang di antara mereka mempunyai emas
sebesar gunung Uhud, lalu ia infakkan, maka Allah tidak akan menerimanya
sampai ia beriman kepada qadar.” (Diriwayatkan oleh Muslim).
Maksud beriman kepada qadar adalah kita mengimani bahwa semua yang
terjadi di alam semesta ini yang baik mapun yang buruk adalah dengan
qadha’ Allah dan qadar-Nya. Semuanya telah diketahui Allah, telah
ditulis[4], telah dikehendaki, dan diciptakan Allah.
Allah
Subhaanahu wa Ta’aala berbuat adil dalam qadha’ dan
qadar-Nya. Semua yang ditaqdirkan-Nya adalah sesuai hikmah yang sempurna
yang diketahui-Nya. Allah tidaklah menciptakan keburukan tanpa adanya
maslahat, namun keburukan dari sisi buruknya tidak bisa dinisbatkan
kepada-Nya. Tetapi keburukan masuk ke dalam ciptaan-Nya. Apabila
dihubungkan kepada Allah Ta’ala, maka hal itu adalah keadilan,
kebijaksanaan, dan sebagai rahmat/kasih-sayang-Nya.
Allah telah menciptakan kemampuan dan
iradah (keinginan) untuk
hamba-hamba-Nya, di mana ucapan yang keluar dan perbuatan yang dilakukan
sesuai kehendak mereka, Allah tidak memaksa mereka, bahkan mereka
berhak memilih.
Manusia merasakan bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan, yang
dengannya ia akan berbuat atau tidak, ia juga bisa membedakan antara hal
yang terjadi dengan keinginannya seperti berjalan, dengan yang tidak
diinginkannya seperti bergemetar. Akan tetapi, kehendak dan kemampuan
seseorang tidak akan melahirkan ucapan atau perbuatan kecuali dengan
kehendak atau izin Allah, namun ucapan atau perbuatan tersebut tidak
mesti dicintai Allah meskipun terwujud.
***
Footnote
[1] Fitnah kubur artinya cobaan ketika di kubur. Maksudnya seseorang
akan diuji dan dicoba dengan pertanyaan siapa Tuhannya, apa agamanya dan
siapa nabinya oleh malaikat Munkar dan Nakir.
[2] Urutan tanda-tanda tersebut –menurut sebagian ulama- adalah sbb.:
Urutan tanda-tanda tersebut –menurut sebagian ulama- adalah sbb.:
- Keluarnya Dajjal
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا قَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ اْلكَذَّابَ،
أَلَا إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، مَكْتُوْبٌ
بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر
“Tidak ada seorang Nabi pun kecuali telah memperingatkan umatnya
dari seorang yang buta sebelah lagi pendusta (Dajjal). Ketahuilah,
sesungguhnya dia buta sebelah dan sesungguhnya Tuhanmu tidak buta
sebelah, di antara kedua mata Dajjal itu tertulis ka-fa-ra (kafir).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dajjal adalah seorang manusia pembohong besar yang akan muncul pada
akhir zaman, mengaku sebagai tuhan yang disembah. Kehadirannya di dunia
termasuk tanda besar hari kiamat. Keajaiban-keajaiban yang
diperlihatkannya merupakan cobaan dari Allah untuk umat manusia yang
masih hidup pada masa itu. Para pengikutnya kebanyakan orang-orang
yahudi.
Di antara keajaibannya adalah ia dapat berjalan cepat seperti air hujan
yang didorong angin, ia mengajak orang-orang untuk mengikuti ajakannya,
lalu bagi orang-orang yang mau mengikutinya ia menyuruh langit untuk
menurunkan hujan sehingga turunlah hujan, disuruhnya bumi menumbuhkan
tanaman, maka tumbuhlah tanaman-tanaman, dan keajaiban-keajaiban lainnya
yang ditunjukkan sehingga banyak yang percaya kepadanya.
Dajjal tinggal di dunia selama 40 hari, di antara hari-hari tersebut;
sehari seperti setahun, sehari berikutnya seperti sebulan, sehari
berikutnya seperti seminggu, kemudian hari-hari lainnya sebagaimana
biasa, dan nantinya ia akan dibunuh oleh Nabi Isa ‘alaihis salam setelah
Beliau turun ke bumi.
Dajjal sudah ada sekarang, hal ini berdasarkan hadits shahih riwayat
Muslim dari Tamim Ad Daariy, bahwa ketika ia bersama para sahabatnya
menaiki perahu, tiba-tiba ia dipermainkan oleh ombak selama satu bulan,
sampai mereka mendekat ke sebuah pulau di tengah lautan hingga saat
tenggelamnya matahari. Mereka ditemui oleh Jassasah, makhluk berbulu
lebat. Kemudian Jassasah membawa mereka menemui Dajjal yang berada di
dalam biara. Ternyata di dalamnya terdapat seorang pria besar posturnya
dalam keadaan terikat dengan ikatan yang sangat kuat, kedua tangannya
disatukan ke leher yang terletak antara kedua lutut hingga mata kakinya
dengan belenggu besi. Kemudian ia bertanya kepada mereka (Tamim dan
kawan-kawannya) tentang pohon kurma Bisan, Danau Thabariyyah, Mata Air
Zaghr, Nabi kaum buta huruf dan apakah ia telah diperangi oleh
orang-orang Arab dan bagaimana perlakuannya terhadap mereka? Kemudian ia
berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya lebih baik jika mereka menaatinya.
Aku beritahukan kepadamu tentang diriku; aku adalah al Masih, aku tidak
lama lagi diizinkan keluar, aku akan keluar dan berjalan di bumi, maka
aku tidak membiarkan satu perkampungan pun kecuali aku singgahi dalam
tempo empat puluh hari, selain kota Makkah dan Madinah. Keduanya
diharamkan bagiku, setiap kali aku akan memasuki salah satu darinya, aku
dihadang oleh malaikat dengan pedang tehunus untuk mencegahku
memasukinya. Sungguh, di setiap jalan kota itu terdapat malaikat yang
menjaganya..dst.” (Lihat Shahih Muslim 7572)
Tidaklah bisa selamat dari fitnah Dajjal kecuali dengan ilmu dan amal.
Adapun dengan ilmu, yaitu harus diketahui bahwa Dajjal itu matanya buta
sebelah, dan terukir di antara kedua matanya tulisan Ka fa ra (kafir).
Adapun dengan amal, yaitu dengan berlindung kepada Allah dari fitnahnya
ketika tasyahhud akhir setiap shalat, dan hendaknya dihapal sepuluh ayat
pertama dari surat Al-Kahfi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam:
« مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ » .
“Barang siapa hapal sepuluh ayat dari awal surat Al-Kahfi, niscaya dia akan diperlihara dari (fitnah) Dajjal.” (HR. Muslim).
- Turunnya Isa putera Maryam dari langit.
Nabi Isa ‘alaihis salam sekarang masih hidup di langit kedua. Ia akan
turun di menara putih sebelah timur Damaskus. Dia membawa syariat Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan mematahkan salib dan
membunuh babi. Beliaulah yang membunuh Dajjal di pintu Lud yang berada
di negeri Palestina. Di zaman Nabi Isa ‘alaihis salam manusia hidup
tenteram, harta melimpah, dan kedamaian di mana-mana (hal ini
berdasarkan hadits-hadits yang shahih).
Menurut sebagian ulama, Isa putera Maryam turun ketika kaum muslimin dipimpin oleh Imam Mahdi.
- Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj,
Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia ganas, kuat, dan pembunuh. Ia keluar
dari tempat-tempat tinggi. Saat rombongan pertama keluar melewati sebuah
danau, mereka meminumnya hingga kering dan tidak ada makanan kecuali
dihabiskannya. Manusia banyak melarikan diri karena takut kepada mereka,
sampai-sampai Nabi Isa dan kaum muslimin berlindung di sebuah bukit,
lalu Nabi Isa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah Ta’ala, maka Allah
mengirimkan ulat-ulat dalam jumlah banyak yang mengenai leher mereka
sehingga semuanya mati.
Ya’juj dan Ma’juj sudah ada sekarang, mereka dikurung dalam dinding
besar yang dibangun oleh Raja Dzulqarnain. Dalam Al Qur’an disebutkan:
فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْباً- قَالَ
هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاء وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاء
وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقّاً
“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula)
melobanginya.– Dzulkarnain berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari
Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya
hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar“. (QS. Al Kahfi: 97-98)
Tentang tembok itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka
melubanginya setiap hari, sehingga ketika mereka hampir berhasil
melubanginya, pemimpin mereka berkata, “Kembalilah! Kalian bisa
melubanginya besok!”, lantas Allah mengembalikan tembok itu tertutup dan
lebih keras daripada kemarin. Sampai apabila masa mereka sudah tiba,
dan Allah hendak membangkitkan mereka di tengah-tengah manusia, maka
pemimpin mereka berkata, “Kembalilah kalian! Kalian akan bisa
melubanginya besok, insya Allah!” ia mengucapkan insya Allah. Besoknya
mereka kembali, sedangkan tembok itu masih seperti keadaan ketika mereka
tinggalkan kemarin, lantas mereka pun berhasil melubanginya dan bisa
berbaur dengan manusia. Mereka pun meminum banyak air dan orang-orang
lari karena takut kepada mereka.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim, hadits ini shahih)
- Terjadinya khasf (penenggelaman bumi) yang terjadi di timur,
- Khasf di barat dan,
- Khasf di jazirah Arab.
Ibnu Hajar berkata, “Di beberapa tempat terjadi gempa yang
menenggelamkan bumi, tetapi bisa jadi yang dimaksudkan dengan tiga
penenggelaman bumi ini lebih daripada gempa-gempa itu, mungkin wilayah
yang tenggelam lebih luas dan skalanya lebih besar.”
- Muncul dukhaan (asap).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ رَبَّكُمْ أَنْذَرَكُمْ ثَلاَثاً: الدُّخَانَ يَأْخُذُ الْمُؤْمِنَ
كَالزَّكْمَةِ، وَيأْخُذُ الْكَافِرَ، فَيَنْتَفِخُ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ
كُلِّ مِسْمَعٍ مِنْهُ، وَالثَّانِيَةَ الدَّابَّةَ، وَالثَّالِثَةَ
الدَّجَّالِ”
“Sesungguhnya Tuhanmu memperingatkan tiga hal: Dukhan (asap) yang
menimpa orang mukmin sehingga ia seperti terkena flu, dan menimpa orang
kafir sampai membengkak, sehingga keluar dari setiap telinganya.” (HR. Ibnu Jarir dan Thabrani, isnadnya jayyid)
- Terbitnya matahari dari barat
Pada saat ini pintu tobat sudah ditutup.
- Keluarnya dabbah (binatang melata).
Binatang melata ini akan berbicara kepada manusia, atau menandai, atau
melukai (menurut qiraa’t Ibnu Abbas “taklimuhum”), lihat surat An Naml:
82, sehingga akan membedakan antara orang mukmin dan orang kafir. Syaikh
Ibnu Utsaimin berkata, “Zhahir Al Qur’an menunjukkan bahwa binatang itu
akan memperingatkan manusia tentang dekatnya azab dan kebinasaan.”
- Keluarnya api yang muncul pertama di sebelah selatan jazirah dari dataran rendah ‘Adn (kawasan di Yaman).
Api tersebut menyebar ke mana-mana dan mengumpulkan manusia ke tempat
berkumpulnya. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan
malaikat Israfil untuk meniup sangkakala yang menghancurkan alam
semesta. Wallahu a’lam.
[3] Dinamakan akhir, karena akhirat merupakan alam terakhir yang akan
dilalui manusia setelah menjalani alam janin, lalu ke alam dunia,
kemudian ke alam barzakh, dan diakhiri dengan alam akhirat.
[4] Nabi shal
lallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“
Allah telah mencatat taqdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)
[Bersambung]
—
Penulis: Marwan Hadidi S.Pdi.
Artikel Muslim.Or.Id