Kewajiban Seorang Hamba Adalah Bersyukur Serta Tidak Kufur
Banyak sekali dalil-dalil yang terdapat di dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah
yang memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur kepada Alloh ‘Azza
wa Jalla dan melarang kita untuk kufur terhadap nikmat-Nya.
Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Karena itu, ingatlah kamu
kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku
dan janganlah kamu kufur terhadap (nikmat)-Ku.” (QS. 2: 152)
Syaikh Abdurrahman Naashir As-Sa’di rohimahulloh berkata,
“Yakni bersyukurlah kalian terhadap nikmat yang telah Allah berikan
kepada kalian dan juga terhadap tercegahnya adzab dari kalian. Di dalam
syukur harus terkandung pengakuan dan kesadaran bahwa nikmat itu
semata-mata dari Alloh semata, dzikir
dan pujian yang diucapkan melalaui lisannya serta ketaatan anggota
badannya untuk semakin tunduk dan patuh dalam melaksanakan
perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya”. Beliau
menambahkan, “Dan karena lawan dari syukur adalah kufur, maka Alloh
Ta’ala telah melarang darinya: ‘Dan janganlah kamu kufur terhadap (nikmat)-Ku’.
Yang dimaksud dengan kufur di sini adalah sesuatu yang menjadi lawan
dari syukur, yakni kufur terhadap nikmat-Nya. Namun terkandung juga di
dalamnya, makna kufur yang sifatnya umum, yang paling besar adalah kufur
kepada Alloh, kemudian berbagai macam dan jenis maksiat.” (Taisir Karimir Rohman)
Di tempat lain Alloh juga berfirman yang artinya, “Mereka
mengetahui nikmat-nikmat Alloh, (tetapi) kemudian mereka meningkarinya
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. 16: 83)
Dalam menafsirkan ayat ini, Mujahid berkata bahwa maksudnya adalah kata-kata seseorang, ‘Ini adalah harta kekayaan yang diwariskan oleh nenek moyangku’. Aun bin Abdulloh mengatakan, “Yakni kata mereka, ‘Kalau bukan karena fulan tentu tidak akan menjadi begini’.” Dan menurut tafsiran Ibnu Qutaibah, “Mereka mengatakan, ‘Ini berkat syafaat sesembahan-sesembahan kita’.” (Kitaabut Tauhid, Syaikh Muhammad At-Tamimy)
Segala Nikmat yang Kita Terima adalah Murni Datangnya dari Alloh
Alloh berfirman yang artinya, “Dan tidak ada kenikmatan yang ada pada kalian kecuali datangnya dari Alloh.” (QS. 16: 3). Syaikh Sholih Alusy-Syaikh hafidzohulloh berkata, “Ini adalah dalil yang tegas dan jelas yang menunjukkan bahwa nikmat apa saja itu adalah dari Alloh, karena lafadz ‘nikmat’ dalam ayat ini datang dalam bentuk ‘nakiroh’ dan dalam konteks penafian. Sehingga ketika lafadz ‘nikmat’
dalam ayat ini menunjukkan sesuatu yang umum (maksudnya nikmat apa saja
-ed), maka tidak bisa dikecualikan darinya suatu macam nikmat tertentu
itu datangnya selain dari Alloh. Maka nikmat apa saja, baik yang besar
maupun yang kecil, yang banyak maupun yang sedikit, itu semua datangnya
dari Alloh semata.
Adapun hamba hanyalah merupakan sebab sampainya nikmat tersebut ke
tangan mereka atau kepadamu. Apabila ada hamba yang menjadi sebab
terselamatkannya dirimu dari kesusahan atau menjadi sebab dalam
keberhasilanmu, maka tidaklah menunjukkan bahwa hamba tersebut adalah waliyyun ni’mah (yang memberikan nikmat), kerena sesungguhnya waliyyun ni’mah hanyalah Alloh Azza wa Jalla. Keyakinan seperti ini termasuk kesempurnaan tauhid seorang hamba, karena seorang muwahhid
(orang yang sempurna tauhidnya) akan meyakini dengan seyakin-yakinnya
di dalam hatinya bahwa di sana tidak ada yang dapat memberikan manfaat
dan mudhorot kecuali hanyalah Alloh Robbul ‘alamin.” (At Tamhid Lii Syarhi Kitabit Tauhid).
Menjadi Hamba yang Bersyukur
Syukur merupakan salah satu maqom (derajat) yang tinggi dari
seorang hamba. Rasa syukur itulah yang dapat membuat seorang hamba
menjadi sadar dan termotivasi untuk terus beribadah kepada Alloh.
Seperti yang diceritakan dari Nabi bahwasanya beliau sholat malam
sampai bengkak kakinya. Ketika ditanyakan kepada beliau, “Mengapa
engkau melakukan ini wahai Rosululloh, padahal sungguh Alloh telah
mengampuni seluruh dosa-dosamu baik yang telah lewat ataupun yang akan
datang?” Maka Rosululloh menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba-Nya
yang bersyukur?” (HR. Bukhori dan Muslim)
Sehingga ketika mengetahui ini, Iblis la’natulloh alaih,
sebelum dia terusir ke dunia, berjanji kepada Alloh ‘Azza wa Jalla untuk
menggelincirkan manusia dan akan menghalangi mereka untuk menjadi
hamba-hamba-Nya yang bersyukur.
Alloh menceritakan perkataan Iblis ini, “Kemudian sungguh akan
kami datangi mereka (bani Adam) dari arah depan, arah belakang, samping
kanan dan samping kiri mereka, sehingga tidak akan Kau dapati kebanyakan
di antara mereka yang bersyukur.” (QS. 7: 17)
Dan terbuktilah apa yang dikatakan oleh iblis, sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh yang artinya, “Dan sedikit sekali golongan hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. 34: 13)
Termasuk bersyukur adalah kita menerima apa pun yang ada pada kita
saat ini, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena pada hakekatnya
kenikmatan yang kita terima itu tiada terkira banyaknya. Alloh berfirman
yang artinya, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Alloh, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya.” (QS. 16: 18)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Lihatlah
orang yang yang ada di bawahmu dan janganlah kamu melihat orang yang
ada di atasmu. Hal itu akan lebih baik bagimu agar kamu tidak meremehkan
nikmat Alloh yang yang diberikan kepadamu.” (HR. Bukhori Muslim)
Bagaimana Menjadi Hamba-Nya yang Bersyukur
Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Syukur itu menurut
asalnya adalah adanya pengakuan akan nikmat yang telah Alloh berikan
dengan cara tunduk kepada-Nya, merasa hina di hadapan-Nya dan
mencintai-Nya. Maka barangsiapa yang tidak merasakan bahwa itu adalah
suatu kenikmatan maka dia tidak akan mensyukurinya. Barangsiapa yang
mengetahui itu adalah nikmat namun dia tidak mengetahui dari mana nikmat
itu berasal, dia juga tidak akan mensyukurinya. Barangsiapa yang
mengetahui itu adalah suatu nikmat dan mengetahui pula dari mana nikmat
itu berasal, namun dia mengingkarinya sebagaimana orang yang
mengingkari Alloh yang memberi nikmat, maka dia telah kafir. Barangsiapa
yang mengetahui itu adalah suatu nikmat dan dari mana nikmat itu
berasal, mengakuinya dan tidak mengingkarinya, akan tetapi ia tidak
tunduk kepada-Nya dan tidak mencintai-Nya atau ridho kepada-Nya, maka ia
tidak mensyukurinya. Barangsiapa yang mengetahui itu adalah nikmat dan
dari mana nikmat itu berasal, mengakuinya, tunduk kepada yang memberi
nikmat, mencintai-Nya dan meridhoi-Nya, dan menggunakan dalam kecintaan
dan ketaatan kepada-Nya, maka inilah baru disebut sebagai orang yang
bersyukur.”
Ancaman dan Bahaya Untuk Orang yang Kufur Nikmat
Alloh berfirman yang artinya, “Dan (ingatlah juga) ketika Robb
kalian mengatakan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka
ketahuilah sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih’.” (QS. 14: 7). Dalam
ayat yang mulia ini, Alloh Azza wa Jalla memberikan janji kepada para
hamba-Nya yang mau bersyukur, sekaligus memberikan ancaman yang keras
bagi mereka yang berani untuk kufur kepada-Nya.
Bukti dari ancaman Alloh ini dapat kita lihat dari kisah-kisah orang
di sekitar kita, atau dari apa yang Alloh ceritakan langsung dalam
ayat-Nya tentang kisah Qorun. Alloh berfirman yang artinya, “Qorun berkata, ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu
yang ada padaku’. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasannya Alloh
sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat darinya
dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada
orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah
Qorun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang
menghendaki kehidupan dunia, ‘Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa
yang telah diberikan Qorun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai
keberuntungan yang besar. Maka Kami benamkan Qorun beserta rumahnya ke
dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya
terhadap adzab Alloh dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat)
membela (dirinya).” (QS 28: 78-79 & 81). Wal iyyadzu billah… semoga Alloh menjadikan kita termasuk ke dalam golongan hamba-Nya yang bersyukur. Amiin.
***
Penulis: Abu Hudzaifah Yusuf
Memang benar jika dikatakan bahwa sebagian besar manusia itu
adalah orang yang tidak mau bersyukur atau tidak pandai berterima kasih.
Bagaimana tidak, ketika Alloh Ta’ala telah begitu banyak memberinya
nikmat, baik yang sifatnya dzohir maupun batin, hal itu tidak membuat
mereka sadar dan tergerak untuk semakin menambah ibadah mereka kepada
Alloh. Meskipun bukan berarti Alloh butuh terhadap ibadah tersebut
sebagai balasan atas nikmat yang telah Alloh berikan. Bahkan sebaliknya,
kenikmatan itu justru membuat mereka semakin jauh dari ibadah kepada
Alloh Ta’ala. Lalu bagaimana sikap yang benar yang harus dilakukan oleh
seorang hamba?
