Barangkali masih tersimpan dalam ingatan kita tatkala seorang artis
mempopulerkan lagu ‘Takdir memang kejam’ yang sangat digemari oleh
sebagian masyarakat negeri ini beberapa waktu lampau, yang menunjukkan
betapa mudahnya masyarakat kita menerima sesuatu yang menurut mereka
bagus namun pada hakikatnya justeru merusak akidah mereka. Karena itulah
setiap muslim wajib membekali dirinya dengan pemahaman takdir yang
benar sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Dalam
mengimani takdir ada empat hal yang harus diyakini dalam dada setiap
muslim yaitu al ‘ilmu, al kitabah, al masyi’ah dan al kholq.
Pertama, Al ‘Ilmu (Tentang Ilmu Allah)
Kita meyakini bahwa ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu secara
global dan terperinci yang terjadi sejak zaman azali (yang tidak
berpermulaan) sampai abadi (yang tidak berkesudahan). Allah Ta’ala
berfirman, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah
mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang
demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya
yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Al Hajj: 70). Allah
sudah tahu siapa saja yang akan menghuni Surga dan siapa yang akan
menghuni Neraka. Tidak ada satupun makhluk di langit maupun di bumi
bahkan di dalam perut bumi sekalipun yang luput dari pengetahuan-Nya.
Kedua, Al Kitabah (Tentang Penulisan Ilmu Allah)
Kita meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan ilmu-Nya tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam Lauhul Mahfuzh sejak 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menulis takdir seluruh makhluk ciptaan-Nya semejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim). Takdir yang ditulis di Lauhul Mahfuzh ini tidak pernah berubah. Berdasarkan ilmu-Nya,
Allah telah menuliskan siapa saja yang termasuk penghuni surga dan
siapa yang termasuk penghuni neraka. Namun tidak ada satu orangpun yang
mengetahui apa yang ditulis di Lauhul Mahfuzh kecuali setelah hal itu terjadi.
Ketiga, Al Masyi’ah (Tentang Kehendak Allah)
Kita meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki kehendak yang meliputi
segala sesuatu. Tidak ada satu perbuatan makhluk pun yang keluar dari
kehendak-Nya. Segala sesuatu yang terjadi semuanya di bawah kehendak (masyi’ah) Allah, entah itu disukai atau tidak disukai oleh syari’at. Inilah yang disebut dengan Irodah Kauniyah Qodariyah atau Al Masyi’ah.
Seperti adanya ketaatan dan kemaksiatan itu semua terjadi di bawah
kehendak Allah yang satu ini. Meskipun kemaksiatan itu tidak diinginkan
terjadi oleh aturan syari’at.
Di sisi lain Allah memiliki Irodah Syar’iyah Diniyah. Di dalam jenis kehendak/irodah
yang kedua ini terkandung kecintaan Allah. Maka orang yang berbuat taat
telah menuruti 2 macam kehendak Allah ini. Adapun orang yang bermaksiat
dia telah menyimpang dari Irodah Syar’iyah namun tidak terlepas dari Irodah Kauniyah.
Lalu apakah orang yang bermaksiat ini terpuji? Jawabnya, Tidak. Karena
dia telah melakukan perkara yang tidak dicintai d bahkan dibenci oleh
Allah.
Keempat, Al Kholq (Tentang Penciptaan Segala Sesuatu Oleh Allah)
Kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah
makhluk ciptaan Allah baik itu berupa dzat maupun sifat, demikian juga
seluruh gerak-gerik yang terjadi di dalamnya. Allah Ta’ala befirman, “Allah adalah pencipta segala sesuatu.”
(Az Zumar: 62). Perbuatan hamba juga termasuk makhluk ciptaan Allah,
karena perbuatan tersebut terjadi dengan kehendak dan kemampuan hamba;
yang kedua-duanya ada karena diciptakan oleh Allah. Allah Ta’ala
berfirman, “Allah-lah yang Menciptakan kalian dan amal perbuatan kalian.” (QS. Ash Shoffaat: 96)
Sumber Kesesatan Dalam Memahami Takdir
Sesungguhnya kesesatan dalam memahami takdir bersumber dari kesalahpahaman dalam memahami kehendak/irodah
Allah. Mereka yang menganggap terjadinya kemaksiatan terjadi di luar
kehendak Allah telah menyingkirkan dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah
yang menunjukkan tentang Irodah Kauniyah. Orang-orang semacam ini
akhirnya terjatuh dalam kesesatan tipe Qodariyah yang menolak
takdir. Sedangkan mereka yang menganggap segala sesuatu yang ada baik
ketaatan maupun kemaksiatan terjadi karena dicintai Allah telah
menyingkirkan dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah yang mengancam hamba
yang menyimpang dari Irodah Syar’iyah. Orang-orang semacam ini akhirnya terjatuh dalam kesesatan tipe Jabriyah
yang menganggap hamba dalam keadaan dipaksa oleh Allah. Maha Suci lagi
Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan. Maka Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah, mereka mengimani Irodah Syar’iyah dan Irodah Kauniyah, dan inilah pemahaman Nabi dan para sahabat.
Takdir Adalah Rahasia Allah
Ali bin Abi Tholib rodhiyAllahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi shollAllahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.” Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, “Kalau begitu kami bersandar saja (tidak beramal-pent) wahai Rosululloh?”. Maka beliau pun menjawab, “Jangan demikian, beramallah kalian karena setiap orang akan dimudahkan”, kemudian beliau membaca firman Allah, “Adapun
orang-orang yang mau berderma dan bertakwa serta membenarkan Al Husna
(Surga) maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al Lail:
5-7). (HR. Bukhori dan Muslim). Inilah nasehat Nabi kepada kita untuk
tidak bertopang dagu dan supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan
tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk bermaksiat.
Pilih Mana: Jalan ke Surga Atau ke Neraka?
Apabila di hadapan anda terdapat 2 buah jalan; yang satu menuju
daerah yang penuh kekisruhan dan ketidakamanan, sedangkan jalan yang
satunya menuju daerah yang penuh ketentraman dan keamanan. Akan
kemanakah anda akan melangkahkan kaki? Akal sehat tentu tidak memilih
jalan yang pertama. Maka demikian pulalah seharusnya kita bersikap dalam
memilih jalan yang menuju kehidupan akhirat kita, hendaknya jalan ke
surga itulah yang kita pilih bukan sebaliknya. Alangkah tidak adilnya
manusia yang memilih kesenangan duniawi dengan akalnya namun justeru
memilih kesengsaraan akhirat dengan dalih takdir dan membuang akal
sehatnya. Suatu saat ada pencuri yang hendak dipotong tangan oleh
kholifah Umar, namun pencuri ini mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin sesungguhnya aku mencuri hanya karena takdir Allah.” Umar pun menjawab, “Dan Kami pun memotong tangan dengan takdir Allah.” Lalu siapakah yang kejam? Bukan takdir Allah yang kejam tapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. WAllahu a’lam bish showaab.
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Pembaca yang budiman, iman kepada takdir merupakan salah satu
rukun iman yang enam. Barangsiapa tidak mengimaninya sungguh dia telah
terjerumus dalam kekafiran meskipun dia mengimani rukun-rukun iman yang
lainnya. Walhamdulillah banyak diantara kaum muslimin yang
telah mengenal takdir, akan tetapi amat disayangkan ternyata masih
terdapat berbagai fenomena yang justru menodai bahkan bertentangan
dengan keimanan kepada takdir.
