Jawaban Telak Untuk Quburiyyun (1)
Ketahuilah! Semoga Allah merahmati kita semua bahwa jalan menuju
ridho Allah memiliki musuh-musuh yang pandai bersilat lidah, berilmu dan
memiliki argumen. Oleh karena itu kita wajib mempelajari agama Allah
yang bisa menjadi senjata bagi kita untuk memerangi syaitan-syaitan ini,
yang pemimpin dan pendahulu mereka (baca: iblis) berkata kepada Robb-mu
‘azza wa jalla:
لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم
مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ
شَمَآئِلِهِمْ وَلاَتَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan
Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan
dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau akan
mendapati mereka kebanyakan tidak bersyukur (ta’at).” (QS. Al A’raaf: 16-17)
Ketahuilah, sesungguhnya tentara Allah
akan senantiasa menang dalam argumen dan perdebatan sebagaimana mereka
menang dengan pedang dan senjata. Seorang muwahhid (orang yang
bertauhid) yang menempuh jalan (Allah) namun tanpa senjata (ilmu untuk membela diri) amatlah mengkhawatirkan.
Allah ta’ala telah memberi nikmat kepada kita dengan menurunkan kitab-Nya yang Dia jadikan:
تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
“Sebagai penjelas atas segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An Nahl: 89)
Tidak ada seorang pun pembawa kebatilan datang dengan membawakan
hujjah (demi membela kebatilannya) melainkan di dalam Al Quran terdapat
dalil yang membantahnya dan menjelaskan kebatilannya, sebagaimana firman
Allah ta’ala,
وَلاَيَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّجِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا
“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu
yang (ganjil), melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan
yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al Furqon: 33)
Termasuk ahlul bathil adalah ahlul bid’ah dan para quburiyyin yang
sesat mereka tinggalkan kewajiban ikhlas dalam beribadah kepada Allah
dan menyekutukan Allah dengan selain-Nya yaitu para nabi dan wali.
Mereka memiliki dalih-dalih. Untuk menjawabnya dapat ditempuh dua
metode, secara global dan rinci.
Jawaban Global
Allah ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ
مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا
الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ
ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ
تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ
“Dialah yang menurunkan Al Quran kepadamu. Di antara (isi)nya ada
ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok Al Quran dan yang lain
(ayat-ayat) mutasyabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya
condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang
mutsyabihaat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya.
Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” (QS. Ali Imron: 7)
(Ayat muhkamat adalah Ayat yang jelas dan tegas maksudnya dapat
dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang
pengertiannya hanya diketahui oleh Allah. Termasuk pengertian ayat
mutasyaabih adalah ayat yang sukar untuk dipahami walaupun tidak menutup
kemungkinan ada yang dapat memahami karena ilmunya lebih mumpuni
-pent).
Dalam hadits shohih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فألئك الذين سمى الله فاحذرهم
“Jika engkau melihat ada orang yang mengikuti ayat-ayat
mutasyaabih dari Al Quran, maka mereka itulah yang disebutkan Allah
(dalam ayat itu), maka jauhilah mereka.” (HR. Bukhari 4547 dan Muslim 2665)
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita agar menjauhi orang yang mengikuti ayat mutasyabih dari Al Quran atau sunnah kemudian membungkus kebatilannya dengan hal itu. Mereka inilah yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
“Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada zaigh (condong kepada kesesatan).”
Sebab peringatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
kekhawatiran beliau andai mereka menyesatkan kita dari jalan Allah
disebabkan mengikuti ayat mutasyaabih, maka beliau memperingatkan kita
untuk menjauhi mereka dan menjauhi jalan mereka.
Jawaban Rinci
1. Syubhat Pertama
“Kami tidaklah menyekutukan Allah. Kami bersaksi bahwasanya tidak
ada yang dapat menciptakan, memberi rezeki, memberi manfaat dan
menimpakan bahaya melainkan Allah semata tidak ada sekutu baginya. Kami
juga bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat
memberi manfaat dan mencegah bahaya bagi dirinya. Akan tetapi kami ini
adalah orang yang bergelimang dosa, dan orang-orang shalih ini memiliki
kedudukan di sisi Allah, maka kami memohon ampunan Allah dengan
perantara mereka.”
Jawaban:
Sesungguhnya orang-orang yang diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
darahnya boleh ditumpahkan dan wanita-wanitanya boleh diperbudak,
mengakui hal tersebut. Mereka mengakui bahwa berhala-berhala mereka
tidak dapat mengatur sesuatu pun. Tetapi mereka hanya menginginkan jah
(kedudukan) dan syafaat mereka. Ternyata tauhid ini tidak berguna
sedikit pun bagi mereka.
Dan Allah ‘azza wa jalla mengatakan dalam kitab-Nya:
وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu,
melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada sesembahan yang
hak melainkan Aku, maka sembahlah Aku (semata).” (QS. Al Anbiyaa’: 25)
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (semata).” (QS. Adz Dzaariyaat: 56)
شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ
وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak selain
Dia. Dan para malaikat, orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang
demikian itu) dengan keadilan. Tidak ada sesembahan yang hak melainkan
Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imron: 18)
وَإِلاَهُكُمْ إِلَهُُ وَاحِدُُ لآَّإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحَمَنُ الرَّحِيمُ
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang hak melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh: 163)
فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونَ
“Maka sembahlah aku semata.” (QS. Al Ankabut: 56)
Masih terdapat berbagai ayat lain yang menunjukkan kewajiban
mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam ibadah dan tidak beribadah kepada
seorang pun selain-Nya.
2. Syubhat Kedua
“Ayat-ayat yang telah disebutkan itu diturunkan kepada mereka
yang beribadah/menyembah patung/berhala. Sedangkan orang-orang yang kami
maksudkan adalah para wali bukan patung/berhala.”
Jawaban:
Seorang yang beribadah kepada selain Allah maka dia telah menjadikan
sesembahannya tersebut watsan (berhala). Maka apakah perbedaan antara
orang yang beribadah kepada patung-patung dengan yang beribadah kepada
para nabi dan wali?!
Di antara orang-orang kafir terdapat orang yang berdoa kepada patung
untuk mendapatkan syafaat, dan di antara mereka juga ada yang beribadah
kepada para wali.
Dalil bahwa mereka beribadah/berdoa kepada wali adalah perkataan mereka,
ُأوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Isra: 57)
Begitu pula mereka menyembah para nabi sebagaimana kaum Nashara
beribadah terhadap Al Masih Ibn Maryam. Dalilnya adalah firman Allah
ta’ala,
وَإِذْ قَالَ اللهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ
اتَّخِذُونِي وَأُمِّىَ إِلاَهَيْنِ مِن دُونِ اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ
مَايَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَالَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ
فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلآَأَعْلَمُ مَا فِي
نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa putera Maryam,
adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai
sesembahan selain Allah?’ ‘Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah
patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku
pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau
mengetahui apa yang ada dalam diriku dan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
perkara-perkara yang ghoib.’” (QS. Al Maaidah: 116)
Demikian pula mereka menyembah para malaikat, sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلاَئِكَةِ أَهَؤُلآءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan
mereka semua, kemudian Allah berfirman kepada malaikat: Apakah mereka
ini dahulu menyembah kamu?” (QS. As Saba’: 40)
Berdasarkan keterangan di atas tersingkaplah kerancuan mereka yang
beranggapan bahwa kaum musyrikin berdoa kepada patung-patung sedangkan
mereka berdoa kepada para wali dan orang shalih dari dua sisi:
Sisi pertama: Anggapan mereka sama sekali tidak benar, karena di
antara kaum musyrikin pun ada yang berdoa/beribadah kepada para wali dan
orang shalih.
Sisi kedua: Sekiranya kita menganggap kaum musyrikin tidak menyembah
melainkan kepada patung semata, maka tidak ada bedanya antara mereka
yang menyembah para wali dan orang shalih dengan para musyrikin karena
mereka semua menyembah kepada sesuatu yang sama sekali tidak dapat
mendatangkan manfaat sama sekali.
Dari sini kita mengetahui bahwa Allah mengkafirkan orang yang
memiliki keyakinan yang aneh-aneh tentang patung atau dengan orang
shalih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi
mereka karena kesyirikan ini, dan sesembahan mereka yaitu para wali
Allah dan orang shalih tidak mampu memberi manfaat kepada mereka (Yakni
memberi mereka pertolongan saat mereka diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).
3. Syubhat Ketiga
“Kaum kuffar menghendaki dari patung-patung itu untuk
mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot dari mereka. Sedangkan kami
tidak mengharapkan yang demikian itu kecuali kepada Allah dan
orang-orang shalih pun tidak memiliki kekuasaan dalam hal ini sedikit
pun. Dan kami tidak beri’tiqod kepada mereka, akan tetapi kami
mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dengan perantaraan mereka
agar mereka menjadi pemberi syafaat bagi kami.”
Jawaban:
Ucapan ini sama persis dengan ucapan orang-orang kafir ketika Allah ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللهِ زُلْفَى
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):
Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3)
هَاؤُلآءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللهِ
“Mereka inilah pemberi-pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)
4. Syubhat Keempat
“Kami tidak menyembah melainkan kepada Allah semata, sedangkan
iltija’ (berlindung) kepada orang shalih dan berdoa kepada mereka
bukanlah termasuk ibadah.”
Jawaban:
Ketahuilah bahwa Allah mewajibkanmu untuk memaksudkan ibadah hanya
kepada-Nya semata dan ini merupakan hak Allah yang menjadi kewajiban
manusia, Allah ta’ala berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Robb-mu dengan merendahkan diri dan dengan
suara yang lirih. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas.” (QS. Al A’raaf: 55)
Doa adalah ibadah. Apabila doa termasuk ibadah maka sesungguhnya berdoa kepada selain Allah adalah syirik
kepada Allah ‘azza wa jalla. Yang berhak untuk diseru, disembah dan
disandarkan harapan adalah Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.
Jika kita telah mengetahui bahwa doa adalah ibadah, dan kita berdoa
kepada-Nya siang dan malam dengan penuh harap dan takut kemudian kita
berdoa kepada nabi atau selainnya agar memenuhi hajat kita, maka sungguh
kita telah menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah.
Allah ta’ala berfirman,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka tegakkanlah shalat dan berkurbanlah!” (QS. Al Kautsar: 2)
Apabila kita menaati Allah dan berkurban untuk-Nya, maka ini adalah
ibadah kepada Allah. Sehingga jika kita berkurban kepada makhluk, baik
itu nabi, jin atau yang lainnya maka sungguh kita telah menyekutukan
Allah dengan selain-Nya dalam masalah ibadah.
Kaum musyrikin yang Al Quran diturunkan di tengah-tengah mereka,
menyembah para malaikat, orang-orang shalih dan Latta. Sedangkan bentuk
peribadatan mereka kepada sesembahan mereka hanyalah dalam bentuk doa,
sembelihan, iltija’ (meminta perlindungan) dan semacamnya (dari
perkara ibadah). Sedangkan mereka sendiri mengakui bahwa mereka adalah
hamba Allah dan di bawah kuasa-Nya serta Allahlah yang mengatur segala
urusan. Akan tetapi, mereka berdoa dan berlindung kepada sesembahan
selain Allah karena kedudukan orang shalih tersebut di sisi Allah dan
mengharapkan syafaat mereka. Ini adalah sangat jelas.
5. Syubhat Kelima
Perkataan mereka terhadap ahli tauhid:
“Kalian mengingkari syafaat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”
Jawaban:
Kami tidak mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami tidak berlepas diri darinya, bahkan Beliau shallallahu ”alaihi wa sallam adalah syaafi’ (pemberi syafa’at), musyaffa’
(yang diizinkan memberi syafa’at oleh Allah) dan aku berharap bisa
mendapatkan syafaat Beliau. Akan tetapi seluruh bentuk syafaat adalah
milik Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala,
قُلِ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا
“Katakanlah! Hanya kepunyaan Allahlah syafaat itu semuanya.” (QS. Az Zumar: 44)
Syafaat itu tidak akan diberikan melainkan setelah diizinkan oleh Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah ta’ala,
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Siapakah yang dapat memberikan syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (QS. Al Baqarah: 255)
Nabi tidak bisa memberi syafaat kepada seseorang melainkan setelah Allah mengizinkannya, sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَلاَيَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى
“Dan mereka tidak dapat memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhoi Allah.” (QS. Al Anbiyaa’: 28)
Sedangkan Allah hanya ridho terhadap tauhid, firman ‘azza wa jalla,
يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ
“(Barang siapa) yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya.” (QS. Ali Imron: 85)
Apabila seluruh bentuk syafaat itu milik Allah, dan tidak akan diberikan melainkan setelah (ada) izin dari-Nya, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan selain beliau tidak dapat memberi syafaat kepada seorang pun hingga
Allah mengizinkan mereka, padahal Allah tidak akan mengizinkannya
kecuali untuk orang yang bertauhid. Oleh karena itu mohonlah syafaat
kepada Allah dan panjatkan doa, “Ya Allah janganlah Engkau halangi aku untuk mendapatkan syafaat beliau, Ya Allah berikanlah syafaat beliau kepadaku” atau kalimat semisal dengannya.
-bersambung insya Allah-
***
Diterjemahkan dari artikel 13 Syubhati lil Quburiyyin wal Jawabi
‘alaiha oleh Abdullah ibn Humaid Al Falasi sebagai ringkasan dari kitab
Kasyfusy-Syubuhat karya Al Imam Muhammad ibn Abdil Wahhab rahimahullah
****
Penerjemah: Abu Muhammad M Ikhwan Nur Muslim
Murojaah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Ketahuilah! Semoga Allah merahmati kita semua bahwa jalan menuju
ridho Allah memiliki musuh-musuh yang pandai bersilat lidah, berilmu dan
memiliki argumen. Oleh karena itu kita wajib mempelajari agama Allah
yang bisa menjadi senjata bagi kita untuk memerangi syaitan-syaitan ini,
yang pemimpin dan pendahulu mereka (baca: iblis) berkata kepada Robb-mu
‘azza wa jalla:
لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم
مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ
شَمَآئِلِهِمْ وَلاَتَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan
Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan
dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau akan
mendapati mereka kebanyakan tidak bersyukur (ta’at).” (QS. Al A’raaf: 16-17)
Ketahuilah, sesungguhnya tentara Allah
akan senantiasa menang dalam argumen dan perdebatan sebagaimana mereka
menang dengan pedang dan senjata. Seorang muwahhid (orang yang
bertauhid) yang menempuh jalan (Allah) namun tanpa senjata (ilmu untuk membela diri) amatlah mengkhawatirkan.
Allah ta’ala telah memberi nikmat kepada kita dengan menurunkan kitab-Nya yang Dia jadikan:
تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
“Sebagai penjelas atas segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An Nahl: 89)
Tidak ada seorang pun pembawa kebatilan datang dengan membawakan
hujjah (demi membela kebatilannya) melainkan di dalam Al Quran terdapat
dalil yang membantahnya dan menjelaskan kebatilannya, sebagaimana firman
Allah ta’ala,
وَلاَيَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّجِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا
“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu
yang (ganjil), melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan
yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al Furqon: 33)
Termasuk ahlul bathil adalah ahlul bid’ah dan para quburiyyin yang
sesat mereka tinggalkan kewajiban ikhlas dalam beribadah kepada Allah
dan menyekutukan Allah dengan selain-Nya yaitu para nabi dan wali.
Mereka memiliki dalih-dalih. Untuk menjawabnya dapat ditempuh dua
metode, secara global dan rinci.
Jawaban Global
Allah ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ
مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا
الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ
ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ
تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ
“Dialah yang menurunkan Al Quran kepadamu. Di antara (isi)nya ada
ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok Al Quran dan yang lain
(ayat-ayat) mutasyabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya
condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang
mutsyabihaat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya.
Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” (QS. Ali Imron: 7)
(Ayat muhkamat adalah Ayat yang jelas dan tegas maksudnya dapat
dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang
pengertiannya hanya diketahui oleh Allah. Termasuk pengertian ayat
mutasyaabih adalah ayat yang sukar untuk dipahami walaupun tidak menutup
kemungkinan ada yang dapat memahami karena ilmunya lebih mumpuni
-pent).
Dalam hadits shohih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فألئك الذين سمى الله فاحذرهم
“Jika engkau melihat ada orang yang mengikuti ayat-ayat
mutasyaabih dari Al Quran, maka mereka itulah yang disebutkan Allah
(dalam ayat itu), maka jauhilah mereka.” (HR. Bukhari 4547 dan Muslim 2665)
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita agar menjauhi orang yang mengikuti ayat mutasyabih dari Al Quran atau sunnah kemudian membungkus kebatilannya dengan hal itu. Mereka inilah yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
“Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada zaigh (condong kepada kesesatan).”
Sebab peringatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
kekhawatiran beliau andai mereka menyesatkan kita dari jalan Allah
disebabkan mengikuti ayat mutasyaabih, maka beliau memperingatkan kita
untuk menjauhi mereka dan menjauhi jalan mereka.
Jawaban Rinci
1. Syubhat Pertama
“Kami tidaklah menyekutukan Allah. Kami bersaksi bahwasanya tidak
ada yang dapat menciptakan, memberi rezeki, memberi manfaat dan
menimpakan bahaya melainkan Allah semata tidak ada sekutu baginya. Kami
juga bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat
memberi manfaat dan mencegah bahaya bagi dirinya. Akan tetapi kami ini
adalah orang yang bergelimang dosa, dan orang-orang shalih ini memiliki
kedudukan di sisi Allah, maka kami memohon ampunan Allah dengan
perantara mereka.”
Jawaban:
Sesungguhnya orang-orang yang diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
darahnya boleh ditumpahkan dan wanita-wanitanya boleh diperbudak,
mengakui hal tersebut. Mereka mengakui bahwa berhala-berhala mereka
tidak dapat mengatur sesuatu pun. Tetapi mereka hanya menginginkan jah
(kedudukan) dan syafaat mereka. Ternyata tauhid ini tidak berguna
sedikit pun bagi mereka.
Dan Allah ‘azza wa jalla mengatakan dalam kitab-Nya:
وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu,
melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada sesembahan yang
hak melainkan Aku, maka sembahlah Aku (semata).” (QS. Al Anbiyaa’: 25)
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (semata).” (QS. Adz Dzaariyaat: 56)
شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ
وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak selain
Dia. Dan para malaikat, orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang
demikian itu) dengan keadilan. Tidak ada sesembahan yang hak melainkan
Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imron: 18)
وَإِلاَهُكُمْ إِلَهُُ وَاحِدُُ لآَّإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحَمَنُ الرَّحِيمُ
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang hak melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh: 163)
فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونَ
“Maka sembahlah aku semata.” (QS. Al Ankabut: 56)
Masih terdapat berbagai ayat lain yang menunjukkan kewajiban
mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam ibadah dan tidak beribadah kepada
seorang pun selain-Nya.
2. Syubhat Kedua
“Ayat-ayat yang telah disebutkan itu diturunkan kepada mereka
yang beribadah/menyembah patung/berhala. Sedangkan orang-orang yang kami
maksudkan adalah para wali bukan patung/berhala.”
Jawaban:
Seorang yang beribadah kepada selain Allah maka dia telah menjadikan
sesembahannya tersebut watsan (berhala). Maka apakah perbedaan antara
orang yang beribadah kepada patung-patung dengan yang beribadah kepada
para nabi dan wali?!
Di antara orang-orang kafir terdapat orang yang berdoa kepada patung
untuk mendapatkan syafaat, dan di antara mereka juga ada yang beribadah
kepada para wali.
Dalil bahwa mereka beribadah/berdoa kepada wali adalah perkataan mereka,
ُأوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Isra: 57)
Begitu pula mereka menyembah para nabi sebagaimana kaum Nashara
beribadah terhadap Al Masih Ibn Maryam. Dalilnya adalah firman Allah
ta’ala,
وَإِذْ قَالَ اللهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ
اتَّخِذُونِي وَأُمِّىَ إِلاَهَيْنِ مِن دُونِ اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ
مَايَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَالَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ
فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلآَأَعْلَمُ مَا فِي
نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa putera Maryam,
adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai
sesembahan selain Allah?’ ‘Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah
patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku
pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau
mengetahui apa yang ada dalam diriku dan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
perkara-perkara yang ghoib.’” (QS. Al Maaidah: 116)
Demikian pula mereka menyembah para malaikat, sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلاَئِكَةِ أَهَؤُلآءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan
mereka semua, kemudian Allah berfirman kepada malaikat: Apakah mereka
ini dahulu menyembah kamu?” (QS. As Saba’: 40)
Berdasarkan keterangan di atas tersingkaplah kerancuan mereka yang
beranggapan bahwa kaum musyrikin berdoa kepada patung-patung sedangkan
mereka berdoa kepada para wali dan orang shalih dari dua sisi:
Sisi pertama: Anggapan mereka sama sekali tidak benar, karena di
antara kaum musyrikin pun ada yang berdoa/beribadah kepada para wali dan
orang shalih.
Sisi kedua: Sekiranya kita menganggap kaum musyrikin tidak menyembah
melainkan kepada patung semata, maka tidak ada bedanya antara mereka
yang menyembah para wali dan orang shalih dengan para musyrikin karena
mereka semua menyembah kepada sesuatu yang sama sekali tidak dapat
mendatangkan manfaat sama sekali.
Dari sini kita mengetahui bahwa Allah mengkafirkan orang yang
memiliki keyakinan yang aneh-aneh tentang patung atau dengan orang
shalih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi
mereka karena kesyirikan ini, dan sesembahan mereka yaitu para wali
Allah dan orang shalih tidak mampu memberi manfaat kepada mereka (Yakni
memberi mereka pertolongan saat mereka diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).
3. Syubhat Ketiga
“Kaum kuffar menghendaki dari patung-patung itu untuk
mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot dari mereka. Sedangkan kami
tidak mengharapkan yang demikian itu kecuali kepada Allah dan
orang-orang shalih pun tidak memiliki kekuasaan dalam hal ini sedikit
pun. Dan kami tidak beri’tiqod kepada mereka, akan tetapi kami
mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dengan perantaraan mereka
agar mereka menjadi pemberi syafaat bagi kami.”
Jawaban:
Ucapan ini sama persis dengan ucapan orang-orang kafir ketika Allah ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللهِ زُلْفَى
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):
Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3)
هَاؤُلآءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللهِ
“Mereka inilah pemberi-pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)
4. Syubhat Keempat
“Kami tidak menyembah melainkan kepada Allah semata, sedangkan
iltija’ (berlindung) kepada orang shalih dan berdoa kepada mereka
bukanlah termasuk ibadah.”
Jawaban:
Ketahuilah bahwa Allah mewajibkanmu untuk memaksudkan ibadah hanya
kepada-Nya semata dan ini merupakan hak Allah yang menjadi kewajiban
manusia, Allah ta’ala berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Robb-mu dengan merendahkan diri dan dengan
suara yang lirih. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas.” (QS. Al A’raaf: 55)
Doa adalah ibadah. Apabila doa termasuk ibadah maka sesungguhnya berdoa kepada selain Allah adalah syirik
kepada Allah ‘azza wa jalla. Yang berhak untuk diseru, disembah dan
disandarkan harapan adalah Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.
Jika kita telah mengetahui bahwa doa adalah ibadah, dan kita berdoa
kepada-Nya siang dan malam dengan penuh harap dan takut kemudian kita
berdoa kepada nabi atau selainnya agar memenuhi hajat kita, maka sungguh
kita telah menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah.
Allah ta’ala berfirman,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka tegakkanlah shalat dan berkurbanlah!” (QS. Al Kautsar: 2)
Apabila kita menaati Allah dan berkurban untuk-Nya, maka ini adalah
ibadah kepada Allah. Sehingga jika kita berkurban kepada makhluk, baik
itu nabi, jin atau yang lainnya maka sungguh kita telah menyekutukan
Allah dengan selain-Nya dalam masalah ibadah.
Kaum musyrikin yang Al Quran diturunkan di tengah-tengah mereka,
menyembah para malaikat, orang-orang shalih dan Latta. Sedangkan bentuk
peribadatan mereka kepada sesembahan mereka hanyalah dalam bentuk doa,
sembelihan, iltija’ (meminta perlindungan) dan semacamnya (dari
perkara ibadah). Sedangkan mereka sendiri mengakui bahwa mereka adalah
hamba Allah dan di bawah kuasa-Nya serta Allahlah yang mengatur segala
urusan. Akan tetapi, mereka berdoa dan berlindung kepada sesembahan
selain Allah karena kedudukan orang shalih tersebut di sisi Allah dan
mengharapkan syafaat mereka. Ini adalah sangat jelas.
5. Syubhat Kelima
Perkataan mereka terhadap ahli tauhid:
“Kalian mengingkari syafaat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”
Jawaban:
Kami tidak mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami tidak berlepas diri darinya, bahkan Beliau shallallahu ”alaihi wa sallam adalah syaafi’ (pemberi syafa’at), musyaffa’
(yang diizinkan memberi syafa’at oleh Allah) dan aku berharap bisa
mendapatkan syafaat Beliau. Akan tetapi seluruh bentuk syafaat adalah
milik Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala,
قُلِ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا
“Katakanlah! Hanya kepunyaan Allahlah syafaat itu semuanya.” (QS. Az Zumar: 44)
Syafaat itu tidak akan diberikan melainkan setelah diizinkan oleh Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah ta’ala,
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Siapakah yang dapat memberikan syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (QS. Al Baqarah: 255)
Nabi tidak bisa memberi syafaat kepada seseorang melainkan setelah Allah mengizinkannya, sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَلاَيَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى
“Dan mereka tidak dapat memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhoi Allah.” (QS. Al Anbiyaa’: 28)
Sedangkan Allah hanya ridho terhadap tauhid, firman ‘azza wa jalla,
يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ
“(Barang siapa) yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya.” (QS. Ali Imron: 85)
Apabila seluruh bentuk syafaat itu milik Allah, dan tidak akan diberikan melainkan setelah (ada) izin dari-Nya, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan selain beliau tidak dapat memberi syafaat kepada seorang pun hingga
Allah mengizinkan mereka, padahal Allah tidak akan mengizinkannya
kecuali untuk orang yang bertauhid. Oleh karena itu mohonlah syafaat
kepada Allah dan panjatkan doa, “Ya Allah janganlah Engkau halangi aku untuk mendapatkan syafaat beliau, Ya Allah berikanlah syafaat beliau kepadaku” atau kalimat semisal dengannya.
-bersambung insya Allah-
***
Diterjemahkan dari artikel 13 Syubhati lil Quburiyyin wal Jawabi
‘alaiha oleh Abdullah ibn Humaid Al Falasi sebagai ringkasan dari kitab
Kasyfusy-Syubuhat karya Al Imam Muhammad ibn Abdil Wahhab rahimahullah
****
Penerjemah: Abu Muhammad M Ikhwan Nur Muslim
Murojaah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Segala puji bagi Allah Robbul ‘Alamiin. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du.
