Tidak Punya Kok Diminta ?
Semua yang ada selain Allah sangat membutuhkan pertolongan Allah,
sedangkan Allah sama sekali tidak membutuhkan hamba. Allah Ta’ala
berfirman yang artinya, “Apakah mereka mempersekutukan Allah dengan
berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan
berhala-berhala itu sendiri adalah buatan manusia. Berhala-berhala
itupun tidak mampu mampu memberi pertolongan kepada penyembahnya dan
kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak sanggup memberikan
pertolongan.” (QS. Al A’rof: 191-192)
Di dalam ayat di atas disebutkan 4 kelemahan sesembahan selain Allah,
yaitu: Statusnya sebagai makhluk, tidak mampu mencipta, tidak mampu
membela diri dan tidak mampu membantu para penyembahnya. Jika salah satu
kelemahan ini saja ada maka itu menjadikannya tidak pantas untuk
disembah lalu bagaimana lagi jika keempat-empatnya terkumpul? (Lihat Mutiara Faedah Kitab Tauhid hal. 90)
Nabi Saja Tidak Berkuasa Apalagi yang Lainnya
Pada saat perang Uhud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terluka di bagian kepala dan gigi taringnya. Menyaksikan permusuhan dari kaumnya yang seperti itu beliau pun mengatakan, “Bagaimana mungkin bisa beruntung suatu kaum yang melukai Nabi mereka?” Tapi kemudian Allah menurunkan ayat (untuk menegur beliau), “Tidak
ada kekuasaan sedikit pun bagimu dalam urusan mereka itu, atau Allah
menerima taubat mereka, atau Allah akan mengadzab mereka karena
sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang zholim.” (QS. Ali Imron: 128) (HR. Al Bukhori secara mu’allaq). Kalau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
saja yang merupakan makhluk termulia tidak mampu untuk menolak mudharat
yang menimpa dirinya dan tidak memiliki campur tangan dalam urusan
Allah sedikit pun maka yang selain Nabi tentu lebih tidak menguasai.
Sebagaimana beliau tidak pantas untuk disembah maka yang lainnya pun
lebih tidak pantas lagi (Lihat Mutiara Faedah Kitab Tauhid hal. 92)
Di antara faedah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:
(1). Para nabi juga mengalami sakit dan luka dan ini menunjukkan
bahwa mereka adalah manusia biasa, (2). Para nabi itu tidak memiliki
kekuasaan apapun kecuali apa yang sudah ditaqdirkan Allah untuk mereka
miliki lalu bagaimana lagi keadaan orang selain mereka (seperti para
dukun dan paranormal yang sok pintar di jaman kita ini ?! -pen), (3).
Tidak ada yang mengetahui penutup amal (hamba dalam hidupnya) kecuali
Allah, (4). Taubat itu akan menghapus dosa yang dilakukan sebelumnya,
(5). Kezholiman merupakan sebab turunnya adzab (Lihat Al Jadiid, hal. 140)
Bahkan Malaikat Pun Tidak Berdaya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Apabila
Allah hendak mewahyukan perintah-Nya, maka difirmankan-Nya wahyu itu
dan langit-langitpun bergetar dengan keras karena takut kepada Allah
‘Azza wa Jalla. Lalu apabila para malaikat penghuni langit mendengar
firman tersebut pingsanlah mereka dan mereka bersimpuh sujud kepada
Allah…” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim di dalam As Sunnah, didho’ifkan Al Albani, sedangkan Al Arna’uth mengatakan derajat hadits ini hasan shohih)
Dalam Shohih Al Bukhori Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila
Allah menetapkan perintah di atas langit maka para malaikat mengepakkan
sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan firman yang
didengar itu seperti suara gemerincing rantai yang ditarik di atas batu
rata, hal itu memekakkan pendengaran mereka sehingga mereka jatuh
pingsan karena ketakutan…” (Lihat Mutiara Faedah Kitab Tauhid
hal. 93). Ini menunjukkan kepada kita bahwa para malaikat pun tidak
memiliki kekuatan apa-apa tatkala harus berhadapan dengan kekuasaan
Allah Ta’ala, mereka ketakutan bahkan pingsan hanya karena mendengar
wahyu-Nya, lalu bagaimana lagi keadaan orang atau makhluk selain mereka?
Maka sadarlah wahai para penyembah Ruhul Qudus betapa hinanya kalian
menyembah sesuatu yang tidak menguasai apa-apa, adakah kejahilan yang
lebih parah dari kejahilan semacam ini? Tidak ada artinya titel profesor
dan doktor yang ada di depan nama kalian kalau masalah yang sudah amat
gamblang ini pun kalian tidak bisa memahaminya.
Begitu pula orang-orang yang menjadikan wali yang telah mati sebagai
perantara dalam berdo’a kepada Allah, yang memuja-muja batu yang bisu,
yang mengeramatkan pohon karena katanya dulu pernah disinggahi orang
sakti, yang merengek-rengek pada jin dengan olah kanuragan menggali
tenaga dalam, yang rela membuang-buang harta di lautan untuk menghibur Ratu Laut Selatan
supaya tidak marah. Siapakah sesembahan mereka itu, apakah mereka lebih
mulia daripada para malaikat?! Tentu tidak, namun barangkali mereka
lebih mencintai tradisi dan lebih mencari keridhoan tuan-tuan turis yang
datang dari luar negeri, sehingga akidah yang suci ini pun rela mereka
nodai. Wal ‘iyaadzu billah.
Kembalilah Kepada Akidah yang Murni
Saudaraku, semoga Allah merahmatimu, kita semua diciptakan Allah
untuk mengabdi hanya kepada-Nya serta menolak sesembahan selain-Nya,
karena segala yang dipuja dan disembah selain Allah adalah makhluk yang
lemah dan tidak menguasai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Allah
Ta’ala memerintahkan kita untuk bertauhid dan melarang kita dari
perbuatan syirik. Allah ta’ala berfirman, “Sembahlah Allah (saja) dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”
(QS. An Nisaa’: 36). Dengan beriman kepada Allah dan mengingkari
sesembahan selain Allah maka kita telah berpegang teguh pada buhul tali
yang amat kuat yang tidak akan pernah terputus. Allah Ta’ala berfirman, “Maka
barangsiapa yang mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah) dan
beriman kepada Allah maka sungguh dia telah berpegang pada buhul tali
yang amat kuat yang tidak tidak akan putus.” (QS. Al Baqoroh: 256)
Syirik Biang Permusuhan
Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang kamu seru (sembah)
selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika
kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalaupun
mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di
hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang
dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Dzat
yang Maha mengetahui.” (QS. Faathir: 13-14). Di antara faedah yang
bisa dipetik dari ayat ini adalah: Bahwasanya kesyirikan itu merupakan
penyebab terjadinya permusuhan antara para penyembah dengan
sesembahan-sesembahan mereka (Lihat Al Jadiid, hal. 138). Lalu apa gunanya meredam murka Nyi Roro Kidul sekarang jika di hari kiamat nanti toh kalian akan menemuinya dalam permusuhan. Wallahu a’lam bish showaab.
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Pembaca sekalian, seandainya seorang yang berakal
menggantungkan harapannya kepada sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan
apa-apa tentu saja ini merupakan sebuah kebodohan. Anehnya tidak
berhenti sampai di situ saja, bahkan dia rela mengorbankan harta dan
nyawanya demi membela sesuatu yang tidak memiliki apa-apa itu. Tidakkah
kita ingat bagaimana orang-orang kafir mengerahkan tenaga dan dana demi
menyebarkan dakwah mereka
yang sesat, dengan perang salib yang dahulu mereka kobarkan dan
kristenisasi yang kini mereka lancarkan dan upaya meliberalkan ajaran
Islam yang kini tengah marak di kalangan kaum cerdik cendekia. Itulah
yang terjadi ketika mereka menjadikan selain Allah sebagai sekutu yang
dibela dan dipuja-puja.
