وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن
قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا
يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di
antara kamu dan mengamalkan amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia
akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka,
dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam
ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepadaku dengan
tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”
Ayat ini merupakan jawaban tuntas atas pertanyaan banyak orang yang
sudah merasa pening melihat keterpurukan dan kemunduran kaum muslimin di
zaman ini. Ayat ini akan menutup rapat-rapat pintu perbedaan pendapat
yang amat sengit antara umat dalam mencari solusi untuk menegakkan
syariat Islam di tanah air. Ada yang berusaha mendirikan negara dalam
negara, sambil berupaya keras meruntuhkan pemerintah yang sah. Ada yang
menggunakan cara-cara teror dan mengacaukan keamanan negara muslim. Ada
yang menyibukkan diri dengan fatamorgana politik. Ada pula yang berusaha
untuk menenggelamkan umat dalam amalan-amalan yang sunah hukumnya
sambil terus-menerus mengesampingkan amalan-amalan yang pokok (baca:
tauhid).
Subhanallah! Bukankah ayat tersebut di atas amat sangat jelas dalam
menerangkan jalan apakah yang seharusnya dititi kaum muslimin agar bisa
mencapai kejayaannya? Semua janji-janji Allah tersebut di atas, mulai
dari kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan kejayaan agama, sampai
ketenteraman negara, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan syarat yang
tersebut di akhir ayat tadi; yaitu menegakkan tauhid (hanya beribadah
kepada Allah ta’ala) dan meninggalkan syirik.
Bagaimana mungkin agama ini akan jaya,
jika masih banyak orang yang kemerdekaan berpikirnya telah terbunuh,
sehingga diperbudak oleh barang-barang tak berakal, seperti batu,
pepohonan, kuburan dan lain sebagainya?!
Bagaimana mungkin ketenteraman negeri ini akan diraih, jika masih
banyak yang seluruh maslahat hidup dan kemudaratannya tergantung pada
benda-benda mati?!
Bagaimana mungkin negara Islam akan berdiri, jika masih banyak orang
yang menghambakan dirinya serta menghinakannya kepada sesuatu yang lebih
rendah dari Allah subhanahu wa ta’ala?
Mereka terjajah kemerdekaannya untuk bisa langsung berhubungan dengan Robbnya! Allahul musta’an wa ‘alaihit tuklan wa laa haula wa laa quwata illa billahil malaikid dayyan…
Melalui kalimat yang singkat ini, kami berusaha untuk menghasung diri
kami sendiri dan kaum muslimin secara umum, untuk terus berjuang
menegakkan bendera tauhid di seluruh penjuru tanah air, sambil terus berjuang sekuat tenaga untuk membersihkannya dari kotoran-kotoran syirik.
أقيموا دولة الإسلام في قلوبكم, تقم لكم في أرضكم
Dirikanlah negeri Islam dalam jiwa-jiwa kalian, niscaya negeri Islam itu akan berdiri di tanah air kalian!
Wallohu ta’ala a’la wa a’lam…
Abu Abdirrahman al-Purbalinggawy al-Atsary
***
Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman Al Atsary Abdullah Zaen
(Mahasiswa S2, Universitas Islam Madinah)
Artikel www.muslim.or.id
Dalam surat an-Nur ayat 55, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
